• Home
    • Profil
      • Sejarah Singkat
      • Visi & Misi
    • Fasilitas
      • Reputasi GO
        • Jumlah Kelulusan
        • Bentuk Kepercayaan
      • Bauran Program
        • Alumni SMA
          • IPA
          • IPS
        • SMA
          • XII IPA
          • XII IPS
          • XI SMA
          • X SMA
          • INTENSIF IPA, IPS, dan IPC
        • SMP
          • IX SMP
          • VIII SMP
          • VII SMP
          • INTENSIF SMP
        • SD
          • 6 SD
          • 5 SD
          • 4 SD
          • INTENSIF SD
      • Sekretariat GO
        • Hasil TryOUT
          • Menu
            • Hubungi Kami
            • Unduh Aplikasi dan Data
            • Info Perguruan Tinggi Negeri
            • Pendaftaran Online
          • Kategori
            • Info Pendidikan  (25)
            • GO's Tips  (7)
            • Renungan  (7)
            • Info PTN  (5)
            • Info Ujian Nasional  (4)
            • Pengetahuan Umum  (3)
            • HOT NEWS  (3)
            • Info SNMPTN  (1)
          • Bank Soal
            • Konsultasi UN (2012)
            • SKL IX SMP
            • Soal IX SMP (Matematika) P12
            • Bahas Biologi XII SMA A11
            • Bahas Bhs. Indonesia XII SMA S11
            • Bahas Bhs Inggris IX SMP P13
            • IX SMP (Bhs. Inggris) P13
            • Bahas Matematika IX SMP P12
          • Hot News
            • Buku Kumpulan Soal dan Pembahasan
            • SUPRA CAMP : Cara Jitu Menembus SNMPTN
            • SISWA GANESHA OPERATION MERAIH MEDALI PADA KEGIATAN "ASMOPS"
          • Pengunjung

            1172370

            Pengunjung hari ini   :   25
            Total Pengunjung   :   230708
            Hits hari ini   :   33
            Total Hits   :   1172370
            Pengunjung Online   :   5

            IP Address anda  :  38.107.179.231


          UN Jangan Dijadikan Satu-satunya Penentu
          Sabtu, 10 Desember 2009 - 16:06:50 WIB
          Diposting oleh : Administrator
          Kategori: Info Pendidikan - Dibaca: 861 kali

           
          Ilustrasi: Pembelajaran menjadi tidak maksimal. Materi harus dikebut dua bulan lebih cepat daripada jadwal seharusnya. Dalam hal ini, peserta didik kembali yang dikorbankan.
           
           Rabu, 9 Desember 2009 | 22:12 WIB


          SEMARANG, KOMPAS.com - Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai penyelenggaraan ujian nasional  (UN) harus dievaluasi secara menyeluruh. UN tidak bisa dijadikan satu-satunya penentu kelulusan karena hanya membuat ujian tersebut menjadi tujuan, bukan sebagai sarana pendidikan.

          "Apalagi, pelaksanaannya belum sesuai harapan. Terjadinya pelanggaran-pelanggaran seperti kebocoran soal, dan penggunaan joki membuktikan UN masih banyak kekurangan," ujar anggota Komisi X DPR Zulfadhli, di sela-sela kunjungan Komisi X DPR ke Universitas Negeri Semarang, Jawa Tengah, Rabu (9/12/09).

          Dengan menjadikan UN sebagai tujuan, siswa akan dipaksa untuk belajar sedemikian rupa dan berusaha sedapat mungkin untuk lulus UN walaupun mengabaikan mata pelajaran lainnya. "Sekolah juga akan berusaha mati-matian agar siswanya lulus 100 persen, meskipun caranya menyimpang," ucapnya.


          Menurut Zulfadhli, pelaksanaan UN masih diperlukan karena berfungsi untuk memetakan kualitas pendidikan, tetapi tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya parameter kelulusan. "Harus digabungkan dengan ujian akhir sekolah untuk menentukan kelulusan, tinggal mengatur bobotnya saja. Pemetaan ditujukan untuk mengetahui kebutuhan pendidikan di suatu wilayah," kata Zufadhli.


          Komisi X DPR juga menyayangkan pelaksanaan UN 2010 yang rencananya akan dimajukan. Semestinya, pemerintah mengevaluasi UN dari segi substansinya bukan justru sudah masuk tataran teknis.


          Rektor Universitas Diponegoro Susilo Wibowo mengatakan, penyelenggaraan UN diperlukan karena menjadi tolok ukur kualitas pendidikan karena menghindarkan kelulusan sekolah dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.


          Dalam kunjungan kerja tersebut, Komisi X DPR berdialog mengenai masalah pendidikan dengan Rektor Unnes, Rektor Undip, Dinas Pendidikan Jateng, dan perwakilan guru dan dosen.


          Sumber : KOMPAS