• Home
    • Profil
      • Sejarah Singkat
      • Visi & Misi
    • Fasilitas
      • Reputasi GO
        • Jumlah Kelulusan
        • Bentuk Kepercayaan
      • Bauran Program
        • Alumni SMA
          • IPA
          • IPS
        • SMA
          • XII IPA
          • XII IPS
          • XI SMA
          • X SMA
          • INTENSIF IPA, IPS, dan IPC
        • SMP
          • IX SMP
          • VIII SMP
          • VII SMP
          • INTENSIF SMP
        • SD
          • 6 SD
          • 5 SD
          • 4 SD
          • INTENSIF SD
      • Sekretariat GO
        • Hasil TryOUT
          • Menu
            • Hubungi Kami
            • Unduh Aplikasi dan Data
            • Info Perguruan Tinggi Negeri
            • Pendaftaran Online
          • Kategori
            • Info Pendidikan  (25)
            • Renungan  (7)
            • GO's Tips  (7)
            • Info PTN  (5)
            • Info Ujian Nasional  (4)
            • Pengetahuan Umum  (3)
            • HOT NEWS  (3)
            • Info SNMPTN  (1)
          • Bank Soal
            • Konsultasi UN (2012)
            • SKL IX SMP
            • Soal IX SMP (Matematika) P12
            • Bahas Biologi XII SMA A11
            • Bahas Bhs. Indonesia XII SMA S11
            • Bahas Bhs Inggris IX SMP P13
            • IX SMP (Bhs. Inggris) P13
            • Bahas Matematika IX SMP P12
          • Hot News
            • Buku Kumpulan Soal dan Pembahasan
            • SUPRA CAMP : Cara Jitu Menembus SNMPTN
            • SISWA GANESHA OPERATION MERAIH MEDALI PADA KEGIATAN "ASMOPS"
          • Pengunjung

            1172374

            Pengunjung hari ini   :   28
            Total Pengunjung   :   230711
            Hits hari ini   :   37
            Total Hits   :   1172374
            Pengunjung Online   :   7

            IP Address anda  :  38.107.179.233


          Pembatalan UN Campuran Bukti Ketidakseriusan Pemerintah
          Sabtu, 08 Desember 0200 - 16:13:30 WIB
          Diposting oleh : Administrator
          Kategori: Info Pendidikan - Dibaca: 359 kali

           
          dibatalkannya UN silang atau campuran ini di satu sisi memang melegakan. Namun di sisi lain, lanjut Suparman, hal itu justeru semakin membuktikan, bahwa pemerintah terlihat jelas menjadikan anak didik sebagai "kelinci percobaan".
           
          JAKARTA, KOMPAS.com - Di satu sisi, pembatalan tersebut dianggap melegakan, karena menurut para guru, UN silang atau campuran itu cenderung malah membuat beban siswa bertambah.

          Di sisi lain, keputusan ini perlu ditindaklanjuti dengan cepat agar semakin tidak membingungkan, mengingat UN akan tetap berjalan tanpa mereka diketahui seperti apa bentuknya.


          "Ini bukti ketidakseriusan pemerintah mengurus UN. Terus terang, sebagai pelaksana kita sempat terganggu juga ketika kebijakan UN silang ini akan dilaksanakan," ujar Romo Y. Alis Windu Prasetya, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Kolese Gonzaga, Selasa (8/12), di Jakarta.
          Romo Alis mengatakan, pelaksanaan UN tahun 2010 tersebut mestinya dianalisa lebih mendalam, mengingat kebijakan tersebut dikeluarkan pada periode Mendiknas sebelumnya, Bambang Sudibyo. Sementara saat ini, kebijakan untuk tetap melaksanakan UN, yang ternyata dengan sistem silang, ini ada di pundak Mendiknas yang baru, Mohammad Nuh.

          "Buat kami, UN seperti tahun-tahun sebelumnya yang mengharuskan pengawas disilang saja membuat repot, apalagi sekarang siswanya yang disilang atau dicampur," ujarnya.

          Sementara itu, menurut Humas SMA Negeri 13 Jakarta Utara Retno Listyarti, keputusan BSNP tersebut sebaiknya segera ditindaklanjuti dengan pengganti kebijakan lainnya dengan cepat. Hal itu mengingat waktu yang terus berjalan seiring ketatnya persiapan siswa menghadapi UN di bulan Maret 2010 mendatang.

          Retno mengakui, para siswa memang sempat bingung dan kecewa ketika kebijakan menerapkan UN silang tersebut digulirkan. "Tapi sekarang sudah lega, karena di lapangan sistem ini pasti membingungkan siswa," ujarnya.

          Retno menuturkan, menghadapi kebijakan UN campuran yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 75 Tahun 2009 yang ditandatangani Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo pada 13 Oktober 2009 itu, pihak sekolah langsung mengantisipasi dengan menerapkan sistem try out yang bisa membantu siswa.

          "Rencananya, pada try out kedua bulan Januari, kami yang tergabung dalam MKS atau Musyawarah Kepela Sekolah di Jakarta Utara sudah mengantisipasinya dengan melakukan simulasi lapangan kepada siswa, ini agar siswa terbiasa ketika UN, ternyata tidak jadi diberlakukan," ujar Retno.

          Selain dari pihak sekolah, tanggapan lain juga datang Suparman, Koordinator Education Forum. Menurutnya, sejak awal digulirkan, kebijakan UN campur tersebut dinilai hanya akan menambah beban pada siswa.

          "Pada saat menghadapi UN saja secara psikologis anak sudah mengalami tekanan, apalagi ditambah dengan sistem UN cara silang juga begitu," ujarnya.

          Pertama, UN sudah membuat siswa tertekan dalam persiapannya. Kedua, pada saat UN siswa akan disibukkan beban mencari lokasi UN. Ketiga, siswa belum tentu comfort dengan suasana kelas yang tidak biasanya didapatkan, kendati kecenderungan ketiga ini lebih kecil.

          "Kalau lokasinya lebih dekat tentu tidak masalah, tapi kalau lokasinya lebih jauh?" ujarnya.

          Menurut Suparman, dibatalkannya UN silang atau campuran ini di satu sisi memang melegakan. Namun di sisi lain, lanjut Suparman, hal itu justeru semakin membuktikan, bahwa pemerintah terlihat jelas menjadikan anak didik sebagai "kelinci percobaan".

          "Semakin terlihat jelas bahwa kebijakan yang digulirkan pemerintah dalam UN masih bersifat trial and error. Ini tentu tidak baik, karena nantinya bagi yang lulus atau tidak lulus pun para siswa sudah terampas haknya. UN ini hanya akan melahirkan korban-korban baru UN," ujarnya.

          Sumber : KOMPAS